Pasti Ada Jalan Keluar!-part 4

Aditya, ya… Siapa lagi? Temannya sewaktu SMP, sahabat terbaik yang pernah ada bagi Early.

Maka pagi itu dengan memberanikan diri, Early menghampiri sosok Aditya yang sedang terpekur di bangkunya.

“Hem…Dit.”

“Ya?” Aditya menoleh. Early langsung mati kutu. Bimbang harus mengucapkan apa.

“Hmm… gak jadi deh.” Early terdiam,”Dit,kamu lagi ada masalah?”

Giliran Aditya terdiam. “Engga kok.” Sambil tertawa gugup.

Early langsung duduk di samping Aditya, dia tahu tampang sahabatnya ini saat sedang bermasalah. Dia tahu, dan mengerti. “Dit, ada apaan sih?”

Aditya tertunduk, “Mamaku saat Ear…” suaranya pelan.

Early langsung tegak. Mama Aditya sakit? Terbayang wajah Tante Erna yang lembut. Wanita yang terlalu baik bahkan untuk disentuh nyamuk.

“Sakit apa Dit?”

“DBD.” Suara Aditya parau,”Dan sekarang aku benar-benar gak punya uang buat biaya rumah sakit. Sedikitpun enggak.”

Mata Early terpejam. Hatinya tersayat. Ayah Aditya juga telah meninggal, 5 tahun yang lalu. Dan sebagai sahabat yang tahu kondisi Aditya, dia bahkan tidak punya uang untuk menolong sahabatnya sendiri!

“Dit, jangan sedih ya. Ntar kalau diomongin sama kawan-kawan sekelas dan wali kelas, mereka pasti bantu deh.”

Aditya mendongak, wajahnya bingung. “Aku malu Ly.”

Early merangkul Aditya, “Gak perlu malu. Kita semua kan keluarga. Lagian kalau kamu malu, gimana dengan kondisi ibu kamu? Udah, gak usah bingung.”

Pandangan Aditya menerawang ke depan,”Iya ya Ear. Setidaknya aku bisa pinjam uang dari kas kelas.”

Early mengangguk, senang dia dapat memberi solusi untuk sahabatnya itu. Tapi kini dia kembali bingung, bagaimana ia bisa memecahkan masalahnya sendiri?

Dilema…

Tapi Early tahu, masalah ini hanya butuh satu kejujuran. Dan untuk satu itu, dia perlu penguatan.

“Dit!”

“Ya?”

“Aku mau Tanya,” sejenak Early ragu-ragu.”Seandainya kejujuran bisa menyakiti orang lain, tapi gak ada jalan lain untuk menghindarinya, gimana?”

Aditya tertawa, “Yaaa…kamu gimana sih. Yang gituan jawabannya udah jelas lagi. Katakan kebenaran walau pahit. Benar gak?”

Early tercenung, jawaban yang demikian mudah. Solusi yang sebenarnya simple dari masalahnya selama ini. Hanya ia, hanya ia yang membuat segalanya menjadi begitu sulit. Hanya 50 ribu, mengapa sulit mengakui? Mungkin mama akan marah sebab ia telah menghilangkan uang itu… bukan, bukan menghilangkan, tapi memberikannya agar menjadi miliknya di surga. Early memang teledor saat memberi uang untuk pengemis itu, ia mengira bahwa ia menyodorkan uang 1000 rupiah. Tapi karena terburu-buru, ia tidak sempat mengecek lagi. Dan kini uang itu diperlukannya untuk modal usaha kuenya. Selain itu, ia perlu membeli buku dan LKS untuk tahun ajaran baru.

Memang perlu biaya untuk semuanya. Tapi jujur memang lebih baik.

Kembali, Early menatap Aditya, sahabat terbaiknya. Dia lega, telah dikuatkan untuk jujur. Lagipula, jika tidak bersama mama, bersama siapa lagi Early akan melewati semuanya?

TAMAT

Add comment 24 Desember 2009

Pasti Ada Jalan Keluar!-part 3

Akhirnya Early memutuskan antara dua hal yang seharusnya dia sudah lakukan dari lama: dia akan berterus terang.

Harusnya itu mudah ya?

tapi tidak bagi Early. sebab jumlah uang yang diperlukannya cukup besar, mencapai ratusan ribu. Dan kini ia harus berterus terang tentang uang yang hilang, sekaligus meminta uang untuk kebutuhannya.

Early dilema.

Akhirnya dia memutuskan satu tindakan, meminjam uang pada seseorang.

masalahnya, siapa orang itu?

*Bersambung lagiiiiiiiiiii.hahahahha

Add comment 9 Desember 2009

Pasti Ada Jalan Keluar!-part 2

sebenarnya hanya sebuah masalah yang sederhana. Dan harusnya tidak membuat Early pusing.

Selembar uang lima puluh ribu.

Sederhana kan?

Tapi uang itu setara dengan 50 kue buatan ibunya. Juga setara dengan pendapatan bersihnya dalam seminggu. Duh, betapa itu mengharu biru Early. (lagi…)

1 comment 17 Nopember 2009

Pasti Ada Jalan Keluar!

Hari ini, adalah satu hari yang paling membosankan bagi Early. Ia hanya merasa sedih, uring-uringan, dan tidak ingin melakukan apapun.

“Kenapa Ar?” mama mendadak muncul saat Early mengempaskan badannya ke atas kasur. Olala, rupanya dari tadi mama telah mengikuti pergerakan gelisah putra semata wayangnya. Early menatap mama, betapa ingin ia bercerita pada wanita terkasih itu. Tapi… (lagi…)

3 comments  Tagged:  1 Nopember 2009

Sepeda Baru Kinta (PART 2)

“Ma, Kinta pergi ya. Assalamualaikum!” Kinta langsung kabur dengan sepedanya menuju sekolah. Hari masih sangat pagi. Jalanan masih kosong dari kendaraan. Tapi untuk menghindari malu dari tatapan mata manusia yang kurang kerjaan membuat Kinta tetap mengayuh pedal sepedanya.

Agak ribet memang ketika Kinta menaiki sepeda gunung pemberian paman. Dia harus mengenakan celana panjang sedangkan roknya ia simpan di dalam tas baru ketika sampai di sekolah roknya dipakai.

“Malu-malu dong, malu-malu dong kamu ketahuan bohong,” sambil bersenandung ria gadis itu terus mengayuh sepedanya. Komplek perumahannya telah dilalui, itu artinya Kinta harus menempuh seratus meter lagi agar tiba di sekolah. Keluh mulai bercucuran dan ia kewalahan.

“Duh, kalo BB gimana nih?” Kinta mencium tempat-tempat sensitif tubuhnya yang biasa mengeluarkan bau tak sedap.

“Aman!”

Kinta mulai mengayuh lagi. Dan. Brukkkkkk…

Sebuah sepeda yang meluncur dari arah berlawanan menabraknya. Untung Kinta langsung mengerem, jadinya ngga terjatuh. Tapi yang menabrak terjatuh, puluhan kue milik si penabrak berhamburan di aspal. (lagi…)

2 comments  Tagged:  , , 25 Oktober 2009

Sepeda Baru Kinta

Lelah. Itulah yang dirasakan Kinta. Setelah dua hari berturut-turut membantu mama-papanya membereskan barang-barang mulai dari perabotan, lemari, kursi, tempat tidur, pokoknya semua yang harus dirapikan di rumah baru mereka membuat rasa pegal masih dikeluarkan dari tubuh gadis ini. Sekarang, ia harus menambah rasa ditubuhnya yang senat-senut dan nyeri itu dengan mendayung sepeda ke sekolah.

“Semua baru, Menarik. Tapi ngga dengan sepeda ini.”

Rumah baru, sekolah baru, dan sepeda… (lagi…)

3 comments  Tagged:  18 Oktober 2009

EARLY, Sebuah Awal

Early = awal.

Di suatu pagi, aku melihat kembali ejaan nama di badge nama yang tertempel mesra di bajuku. Aku sudah SMU sekarang! Ini awal dari kehidupan baru. Awal, seperti namaku.

Jadi filosofis ya? Maklum, lagi gembira banget menginjak masa-masa yang kata orang zaman dulu sih, adalah masa terindah dalam hidup. Kan ada tuh lagunya. Gimana ya, rada-rada lupa sih. (lagi…)

3 comments  Tagged:  , 11 Oktober 2009


 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tag

Kategori

Komentar Terakhir

Tulisan Terakhir